Minggu, 07 November 2010

Dua Pilar Potensi Diri

Pilar pertama

SECARA garis besar, manusia mempunyai dua pilar diri. Pilar pertama adalah hablumminallah dan pilar berikutnya adalah hablumminannas. Kedua pilar diri ini memiliki dimensinya masing-masing. Secara harfiah pilar berarti tiang penguat. Dalam menjalani kehidupannya, dengan atau tanpa disadari, setiap manusia tidak pernah lepas dari dua pilar tersebut.

Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Demikian sebuah hadits riwayat Muslim. Dalam Islam, fitrah manusia adalah bertauhid, menjadi penerima kebenaran. Sebelum lahir manusia sudah mengikat perjanjian dengan Allah bahwa Dialah Tuhannya. Secara fitrah pula manusia lahir ke dunia berbekal potensi akal, pen-dengaran, penglihatan, dan hati.

Menyadari fitrahnya sebagai makhluk cipta-an Allah, manusia mencapai eksistensinya dengan memenuhi keberfungsiannya, yakni menerima petunjuk Ilahiah, menjadi khalifah, memegang amanah (tugas keagamaan), dan menjadi pengabdi. Jalannya ialah dengan men-dayagunakan segenap potensi fitrahnya itu.

Dalam sebuah tulisannya, Maryatul Kibtyah menyatakan bahwa manusia merupakan pusat hubungan-hubungan (center of relatedness), tetapi dalam ajaran Islam pusat segalanya bukanlah manusia, melainkan Sang Pencipta. Dengan demikian, landasan filsafat Islam adalah theosentrisme atau Allah-sentrisme. Gambaran manusia dengan kehidupannya banyak sekali di dalam Al-Quran.

Menurut Musnamar dan Faqih, Allah men-ciptakan manusia yang memiliki beberapa fungsi. Pertama, sebagai makhluk Allah. Secara kodrati berarti manusia merupakan mahluk religius, makhluk yang mengabdi kepada Allah, atau abdullah. Kedua, sebagai makhluk individu. Dalam fungsinya sebagai makhluk individu ini manusia memiliki kekhasan masing-masing, juga memiliki potensi dan eksistensi sendiri. Dengan keunikan yang dimilikinya manusia menjadi tidak seragam, memiliki ukuran masing-masing (QS Al-Qomar 54: 49). Oleh karena-nya manusia dituntut untuk memikirkan keadaan dirinya.

Ketiga, sebagai makhluk sosial. Dalam fungsinya sebagai makhluk sosial manusia saling berhubungan antara satu dengan lain-nya. Dalam hal ini tidak mungkin manusia hidup sendirian tanpa melibatkan pihak lain. Oleh sebab itu, manusia selalu memikir-kan orang lain. Allah SWT memerintahkan manusia untuk saling bersilaturahmi dan saling mengenal (QS Al-Hujurat 49: 13).

Keempat, manusia sebagai makhluk ber-budaya. Dengan akal dan pikirannya manusia yang hidup dan mengelola alam dunia ini menciptakan kebudayaan. Sebutan khalifah fil ardh merujuk pula tugas manusia sebagai pengelola alam. QS Al-Fatir 35: 39: Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi ini.

Pilar kedua

Setelah hablumminallah sebagai pilar pertama potensi diri, hablumminannas merupakan pilar kedua. Di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman mengenai bebe-rapa dimensi hablumminannas ini.

Dalam QS Ali Imron (3) ayat ke-110, manusia (umat Islam) adalah makhluk yang berkualitas. Manusia menyeru pada kebaikan dan men-cegah kemungkaran. Dalam QS Ali Imron (3) ayat ke-112, manusia adalah keseimbangan: manusia senantiasa menjaga hubungan vertikalnya dengan Tuhan dan juga hubungan horizontalnya dengan sesama manusia.

Dalam QS Al-Maidah (5) ayat pertama dan kedua, manusia saling menolong dalam kebajikan dan menjauhi perbuatan yang jelek. Dalam tiga ayat QS Al-Ashr (103), manusia sailng menasihati dan menaati kebenaran, berlaku sabar dan adil.

Dalam QS Al-Qashash (28) ayat ke-77, manu-sia mempersiapkan kehidupannya di akhirat sambil sekaligus mencari penghidupannya di dunia. Dalam QS An-Nisa (4) ayat pertama, manusia adalah makhluk yang menjaga silaturahmi.

Dari pemaparan ringkas di atas, demikianlah manusia memiliki dua pilar yang tidak pernah lepas dari keseharianya. Meskipun demikian, dua pilar tersebut sebenarnya bersifat potensial. Dalam artian, dua pilar tersebut bagaimana pun harus disadari dan dipahami sehingga bisa teroptimalkan keberadaannya.

Lebih lanjut, dengan menyadari dan mema-hami keberadaan dua pilar diri tersebut, manusia akan mampu mengoptimalkannya secara bersamaan. Jika hanya menitikberat-kan pada satu pilar saja, maka prestasi dan perwujudan potensi diri seseorang akan kurang optimal.

Perwujudan potensi diri manusia salah satu-nya dapat diukur dengan kesalehan dan produktivitasnya. Dengan perkataan lain, dua pilar diri tersebut merupakan ruh aktivitas manusia dalam berkegiatan; meraih kesalehan dan beramal dengan produktif. Hablumminallah adalah daya pendorong kesalehan pribadi; hablumminannas adalah daya ledak produktivitas dalam berkarya.

Sumber: www.insangemilang.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar