Minggu, 07 November 2010

Mata Pengintai - Pulau Rondo

Pulau Rondo (Salah Satu Pulau Pulau Kecil Terluar di NAD)

rondoPulau Rondo terletak di ujung utara Sumatera, dan merupakan pulau terluar yang berbatasan dengan negara India. Posisi Pulau Rondo sangat strategis, yaitu di ujung barat Indonesia dan merupakan jalur pelayaran internasional. Secara geografis, pulau Rondo berada pada 06° 04’ 30” - 95° 06’ 45” BT. Pulau ini merupakan salah satu pulau kecil yang ada di wilayah Kabupaten Sabang, selain Pulau Weh, Klah, Rubiah dan Seulako.


PULAU RONDO (Salah Satu Pulau Pulau Kecil Terluar di NAD)
Oleh: Tonny F. Kurniawan

 rondo
Letak Geografis dan Kondisi Wilayah Pulau Rondo
a. Letak geografis
Pulau Rondo terletak di ujung utara Sumatera, dan merupakan pulau terluar yang berbatasan dengan negara India. Posisi Pulau Rondo sangat strategis, yaitu di ujung barat Indonesia dan merupakan jalur pelayaran internasional. Secara geografis, pulau Rondo berada pada 06° 04’ 30” - 95° 06’ 45” BT. Pulau ini merupakan salah satu pulau kecil yang ada di wilayah Kabupaten Sabang, selain Pulau Weh, Klah, Rubiah dan Seulako.
Jarak Pulau Rondo dengan Kota Sabang 15,6 km, dengan Kelurahan Iboih 9,3 km, dan dengan Kelurahan Ujung Ba’u 4,8 km. Luas Pulau Rondo 0,4 km2, dapat dicapai dengan kapal motor dari Kelurahan Ujung Ba’u selama 40 menit, dari Kelurahan Iboih 1,5 jam dan dari Kota Sabang 1,75 jam.
Pulau Rondo termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Ujung Ba’u, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi NAD. Pulau ini tidak dihuni secara tetap, tetapi secara bergantian oleh Marinir dan petugas jaga mercusuar. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 177 dan titik referensi (TR) no. 177 dan sebuah mercusuar.

b. Topografi
Pulau karang yang berbentuk bulat ini memiliki topografi berbukit (bentuk Kount), dengan ketinggian yang rendah. Bentuk lahan pulau ini berupa perbukitan denudasional terkikis ringan dan terumbu paparan pelataran yang ada di perairan sekelilingnya. Kondisi pantai terjal dan berbatu sehingga agak sulit didarati dari arah laut. Letaknya yang berada di laut lepas dengan arus dan gelombang yang relatif lebih besar menyebabkan pulau ini rawan abrasi. Elevasi ketinggian Pulau Rondo antara 0 – 35 m di atas permukaan laut (dpl).

c. Litologi
Secara litologi, Pulau Rondo pada umumnya sama dengan Pulau Weh, yaitu tersusun dari tufa andesit dan batuan sedimen hasil letusan gunung berapi. Pada daerah pantai dan sebagian besar dataran pesisir serta lahan terbuka umumnya mempunyai struktur yang bercampur dengan pasir serta banyak batu-batu besar.

d. Klimatologi
Secara umum iklim Pulau Rondo termasuk kedalam iklim tropis. Data iklim yang bersumber dari stasiun Meteorologi dan Geofisika Sabang, menunjukkan bahwa curah hujan mencapai 2.130,8 mm/tahun dengan jumlah hari hujan 149 hari/tahun. Kondisi temperatur harian di sekitar Pulau Rondo berkisar 21,5°C-30,5°C, Sedangkan kecepatan angin mencapai 10,8 knot, dengan arah angin terbanyak menuju arah barat.

e. Kondisi Perairan
Pulau Rondo merupakan pulau terluar yang berada di bagian barat laut Pulau Weh. Kondisi perairan pulau ini jernih dengan ombak yang relatih lebih tinggi dari pada perairan pulau lainnya. Arus di daerah perairan pulau ini berasal dari barat (Samudera Hindia) bergerak menuju timur dan sebagian dibelokan ke utara, dengan kecepatan mencapai 0,65 m/detik.
Parameter fisik perairan Pulau Rondo yaitu sebagai berikut : warna <>
Potensi Sumberdaya Alam Pulau Rondo
a. Sumberdaya Perikanan
Perairan pulau ini memiliki kekayaan hayati yang melimpah, antara lain terumbu karang dan berbagai jenis ikan, baik ikan hias maupun ikan ekonomis seperti tuna (Thunnus Sp.), tenggiri (Scomberomorus commersoni), lemuru (Sardinella longiceps), kakap (Lutjanus Sp.), kembung (Rastrelliger Sp.), tembang, dan kerapu. Di perairan ini terkadang dijumpai ikan hiu, yang menjadikan Pulau Rondo sebagai daerah penangkapan ikan (Fishing Ground). Kondisi ini didukung adanya proses Up welling akibat pertemuan arus dari utara dan selatan, yang menyebabkan banyak terakumulasinya berbagai jenis ikan.
b. Vegetasi
Pulau Rondo merupakan pulau yang bervegetasi cukup lebat. Sebagian besar lahan berupa hutan tropika basah (dengan vegetasi pohon, semak dan herba). Berbagai jenis vegetasi diantaranya pohon kelapa (terutama di pinggir pantai), cengkeh, buah-buahan, kayu ketapang, gelumpang, kayu laut, medang dan lagan.
c. Terumbu Karang dan Biota Penghuninya
Pulau Rondo memiliki berbagai jenis tutupan terumbu karang. Jenis karang yang dominan berupa karang keras (Hard Coral) 32,3%, jenis lainnya yaitu karang mati (Dead Coral) 19,6%, dan karang lunak (Soft Coral) 2,6%.
Kelimpahan biota yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang dasar perairan Pulau Rondo didominasi oleh kelompok ikan yang berukuran > 1 inch, Jenis lainnya yaitu Bulu Babi/sea urchins (Diadema sp.), ikan berukuran <>
Faktor penyebab kerusakan karang yang dominan terjadi disebabkan antara lain jangkar kapal nelayan (26,7%), perubahan suhu (kelantang ) 16,7%, pembentukan massa putih (white band) 13,3%, kerusakan lain 10%, ledakan bom 6,7%, dan penyakit karang 3,3%. Berdasarkan kegiatan observasi langsung di lapangan dan informasi dari masyarakat bahwa ekosistem mangrove dan padang lamun belum pernah ditemukan di sekitar pulau Rondo.
Kondisi Sosial Budaya, Ekonomi dan Infrastruktur
a. Sosial Budaya
Di sekitar Pulau Rondo yang tak berpenghuni ini kegiatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Ujung Ba’u dan masyarakat daerah lain adalah mencari ikan. Daerah tangkapannya tidak jauh dari pulau tersebut karena mesin kapal nelayan belum mampu melewati gelombang yang besar hingga batas Laut Andaman.

b. Posisi dalam Pelayaran Regional
Pulau Rondo merupakan salah satu pulau kecil terluar yang berbatasan langsung dengan India dan Thailand. Di pulau ini terdapat mercusuar yang dijaga secara bergantian oleh petugas mercusuar dan terdapat titik referensi (TR) dan titik dasar (TD) yang terdaftar dalam PP No. 38 Th 2002.

Posisi Rondo ini sangat strategis karena berada pada jalur pelayaran antara 2 (dua) benua yaitu Asia dan Eropa, sehingga memberikan arti penting bagi terbukanya berbagai peluang maupun ancaman dari luar. Salah satu ancaman yang serius adalah illegal fishing oleh nelayan asing. Hal ini disebabkan pula oleh masih tradisionalnya alat tangkap yang digunakan oleh nelayan setempat.

Dengan ditetapkannya Sabang dan Aceh sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di ujung barat Indonesia, mengakibatkan semakin banyaknya volume pelayaran di perairan ini. Sehingga keberadaan pulau memerlukan pengawasan yang lebih intensif, agar keberadaannya tidak diklaim secara sepihak oleh negara lain.

Perkembangan perundingan bilateral antara RI-India yang telah dilakukan:
1. Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen RI - India di Jakarta tanggal 8 Agustus 1974 (diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 51 Tahun 1974 tanggal 25 September 1974), terdiri dari 4 (empat) titik koordinat (titik 1 – 4).
2. Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen RI - India (perpanjangan Garis Batas Landas Kontinen tahun 1974) dilakukan di New Delhi tanggal 14 Januari 1977, terdiri dari 9 (sembilan ) titik koordinat :
a. Laut Andaman 4 (empat) titik koordinat
b. Samudera Hindia 5 (lima) titik koordinat.
(diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 26 Tahun 1977,
tanggal 04 April 1977).

c. Transfortasi dan Aksesibilitas
Pulau Rondo dapat diakses dengan menggunakan kapal motor dari Kelurahan Ujung Ba’u selama 40 menit, dari Kelurahan Iboih 1,5 jam dan dari Kota Sabang 1,75 jam. Untuk mencapai pulau ini sangat mudah melalui beberapa jalur dengan menggunakan berbagai macam sarana transportasi.

Dua Pilar Potensi Diri

Pilar pertama

SECARA garis besar, manusia mempunyai dua pilar diri. Pilar pertama adalah hablumminallah dan pilar berikutnya adalah hablumminannas. Kedua pilar diri ini memiliki dimensinya masing-masing. Secara harfiah pilar berarti tiang penguat. Dalam menjalani kehidupannya, dengan atau tanpa disadari, setiap manusia tidak pernah lepas dari dua pilar tersebut.

Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Demikian sebuah hadits riwayat Muslim. Dalam Islam, fitrah manusia adalah bertauhid, menjadi penerima kebenaran. Sebelum lahir manusia sudah mengikat perjanjian dengan Allah bahwa Dialah Tuhannya. Secara fitrah pula manusia lahir ke dunia berbekal potensi akal, pen-dengaran, penglihatan, dan hati.

Menyadari fitrahnya sebagai makhluk cipta-an Allah, manusia mencapai eksistensinya dengan memenuhi keberfungsiannya, yakni menerima petunjuk Ilahiah, menjadi khalifah, memegang amanah (tugas keagamaan), dan menjadi pengabdi. Jalannya ialah dengan men-dayagunakan segenap potensi fitrahnya itu.

Dalam sebuah tulisannya, Maryatul Kibtyah menyatakan bahwa manusia merupakan pusat hubungan-hubungan (center of relatedness), tetapi dalam ajaran Islam pusat segalanya bukanlah manusia, melainkan Sang Pencipta. Dengan demikian, landasan filsafat Islam adalah theosentrisme atau Allah-sentrisme. Gambaran manusia dengan kehidupannya banyak sekali di dalam Al-Quran.

Menurut Musnamar dan Faqih, Allah men-ciptakan manusia yang memiliki beberapa fungsi. Pertama, sebagai makhluk Allah. Secara kodrati berarti manusia merupakan mahluk religius, makhluk yang mengabdi kepada Allah, atau abdullah. Kedua, sebagai makhluk individu. Dalam fungsinya sebagai makhluk individu ini manusia memiliki kekhasan masing-masing, juga memiliki potensi dan eksistensi sendiri. Dengan keunikan yang dimilikinya manusia menjadi tidak seragam, memiliki ukuran masing-masing (QS Al-Qomar 54: 49). Oleh karena-nya manusia dituntut untuk memikirkan keadaan dirinya.

Ketiga, sebagai makhluk sosial. Dalam fungsinya sebagai makhluk sosial manusia saling berhubungan antara satu dengan lain-nya. Dalam hal ini tidak mungkin manusia hidup sendirian tanpa melibatkan pihak lain. Oleh sebab itu, manusia selalu memikir-kan orang lain. Allah SWT memerintahkan manusia untuk saling bersilaturahmi dan saling mengenal (QS Al-Hujurat 49: 13).

Keempat, manusia sebagai makhluk ber-budaya. Dengan akal dan pikirannya manusia yang hidup dan mengelola alam dunia ini menciptakan kebudayaan. Sebutan khalifah fil ardh merujuk pula tugas manusia sebagai pengelola alam. QS Al-Fatir 35: 39: Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi ini.

Pilar kedua

Setelah hablumminallah sebagai pilar pertama potensi diri, hablumminannas merupakan pilar kedua. Di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman mengenai bebe-rapa dimensi hablumminannas ini.

Dalam QS Ali Imron (3) ayat ke-110, manusia (umat Islam) adalah makhluk yang berkualitas. Manusia menyeru pada kebaikan dan men-cegah kemungkaran. Dalam QS Ali Imron (3) ayat ke-112, manusia adalah keseimbangan: manusia senantiasa menjaga hubungan vertikalnya dengan Tuhan dan juga hubungan horizontalnya dengan sesama manusia.

Dalam QS Al-Maidah (5) ayat pertama dan kedua, manusia saling menolong dalam kebajikan dan menjauhi perbuatan yang jelek. Dalam tiga ayat QS Al-Ashr (103), manusia sailng menasihati dan menaati kebenaran, berlaku sabar dan adil.

Dalam QS Al-Qashash (28) ayat ke-77, manu-sia mempersiapkan kehidupannya di akhirat sambil sekaligus mencari penghidupannya di dunia. Dalam QS An-Nisa (4) ayat pertama, manusia adalah makhluk yang menjaga silaturahmi.

Dari pemaparan ringkas di atas, demikianlah manusia memiliki dua pilar yang tidak pernah lepas dari keseharianya. Meskipun demikian, dua pilar tersebut sebenarnya bersifat potensial. Dalam artian, dua pilar tersebut bagaimana pun harus disadari dan dipahami sehingga bisa teroptimalkan keberadaannya.

Lebih lanjut, dengan menyadari dan mema-hami keberadaan dua pilar diri tersebut, manusia akan mampu mengoptimalkannya secara bersamaan. Jika hanya menitikberat-kan pada satu pilar saja, maka prestasi dan perwujudan potensi diri seseorang akan kurang optimal.

Perwujudan potensi diri manusia salah satu-nya dapat diukur dengan kesalehan dan produktivitasnya. Dengan perkataan lain, dua pilar diri tersebut merupakan ruh aktivitas manusia dalam berkegiatan; meraih kesalehan dan beramal dengan produktif. Hablumminallah adalah daya pendorong kesalehan pribadi; hablumminannas adalah daya ledak produktivitas dalam berkarya.

Sumber: www.insangemilang.net